Tuesday, November 27, 2012

REFLEKSI SEPULUH NOPEMBER EMPAT PULUH LIMA




Sepuluh Nopember yang lalu, rakyat Indonesia memperingati hari yang penuh nilai histori. Hari Pahlawan, sebiuah refleksi kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia dengan memperhatikan semangat perjuangan para pahlawan dalam upaya mempertahankan kemerdekaan di masa lampau. Relevansi dengan kehidupan masa kini yang penuh tantangan mempertahankan kemerdekaan dalam ruang perubahan dinamika perjuangan di masa kini.
Era modern yang identik dengan globalisasi serta westernisasi mengharuskan bangsa ini beradaptasi untuk mempertahankan  eksistensi dalam rangka upaya menjaga kesejahteraan umat dan perdamaian dunia. Liberalisme seolah-olah telah membelenggu dan mempengaruhi berbagai pemikiran dan tingkah laku manusia modern. Mereka yang menilai keadaan ini sebagai suatu hal sudah semestinya terjadi sesuai perkembangan zaman, akan mengikutinya semata-mata hanya mencari eksistensi diri agar mampu bertahan hidup bagaikan partikel air yang mengalir mengikuti arah dan kecepatan aliran air. Sebaliknya, bagi mereka yang menganggap ini bagaikan buaya-buaya di perairan yang tenang akan selalu memperhatikan kondisi sekitar dan selalu melihat dan memperhatikan buaya-buaya, yakni memprediksi bahaya-bahaya yang akan terjadi jika semangat westernisasi menggerogoti bumi ini. Invasi semangat westernisasi oleh bangsa barat ke berbagai penjuru belahan dunia, termasuk Indonesia, telah banyak merubah paradigm berpikir kaum intelektual di berbagai penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.
Indonesia, bangsa yang beragam budaya, kaya raya akan sumber daya alam merupakan salah satu bangsa yang terlintasi dan disinggahi nilai historis dalam perkembangan invasi westernisasi global. Indonesia dijajah kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun oleh Belanda. Selama masa penjajahan, tidak kurang  intelektual pribumi menyumbangkan pengaruhnya melalui pemikiran-pemikiran visioner menyatukan Nusantara menuju Indonesia merdeka.Banyak bermunculan organisasi-organisasi di masa itu. Umumnya, Organisasi-organisasi di awal abad 20an masih bersifat kedaerahan (etnosentris ). Organisasi-organisasi tersebut berusaha merumuskan berbagai pemikiran untuk membangkitkan semangat kejuangan menuju bangsa yang terbebas dari cengkeraman bangsa  penjajah. Momentum menyatukan berbagai pemikiran yang masih bersifat kedaerahan  jatuh pada 28 Oktober 1928, menjadi titik tekan perjuangan bangsa Indonesia yang lebih terorganisir dan sistematik dengan menjunjung tinggi semangat berbangsa, berbahasa, dan bertumpah darah satu, Indonesia.Atas dasar persamaan perjuangan, bangsa ini mampu melawan hegemoni Barat serta dominasi Asia Raya kurang lebih 4 tahun sebelum Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Momentum peringatan hari pahlawan pada tanggal sepuluh nopember kali ini, wajib direnungkan oleh segenap elemen bangsa Indonesia. Kaum elit intelektual (mahasiswa) harus mampu menghayati peran dan fungsinya. Tanpa kemauan untuk mengingat dan merenungkan semangat arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada 10 Nopember 1945, mustahil bangsa ini mampu berdiri membawa sang saka Merah-Putih di tiap langit Negara Indonesia. Mahasiswa sebagai garda terdepan revolusi bangsa harus siap menjadi pemimpin masa depan bangsa ini dalam mengawal kemerdekaan serta mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan sentosa sesuai amanah kemerdekaan yang direbut oleh para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raga untuk bangsa tercinta, INDONESIA.
SEMANGAT BERKARYA UNTUK BANGSA
HMI, avant garde revolusi



0 comments

Posts a comment

 
© 2013 HMI Komisariat Perkapalan Sepuluh Nopember | Gebang Lor 14 Surabaya
Designed by HMI Komisariat Perkapalan
Back to top